pasang
post-feature-image
Homejeparasejarah

TAPAK AWAL JAPARA ABAD KE-18

pasang

Dapat dikatakan bahwa studi ini adalah upaya kali pertama memberikan gambaran cukup lengkap tentang Jepara[1] di sekitar abad ke-18. K...

Toleransi Beragama ala Sunan Kudus
RATU KALINYAMAT; RAINHA DE JAPARA SENORA DE RICA
Suku Bugis di Karimunjawa

Dapat dikatakan bahwa studi ini adalah upaya kali pertama memberikan gambaran cukup lengkap tentang Jepara[1] di sekitar abad ke-18. Kenapa harus berangkat dari abad ke-18? Alasan paling logis adalah karena sekitar abad tersebut perkembangan Jepara sudah terdokumentasikan dengan baik, hal yang cukup sulit ditemukan sekitar abad ke-16 sampai dengan abad ke-17.

Kenapa harus Jepara? Karena ia adalah salah satu dari tiga kota tertua yang disebutkan Babad Tanah Jawa; jauh sebelum Summa Oriental ditulis oleh Tomé Pires (w. 1540)[2], seorang biksu Buddha-Tionghoa benama I Tsing (義淨: dieja I Ching, dengan sistem romanisasi Yi Jing, w. 713) menyeberangi lautan sesuai Jalur Sutra menuju India dan menemukan sebuah tempat bernama Holing (sekarang Keling) pada tahun 674 M. Di tempat tersebut, I Tsing mendapati pemimpin perempuan tegas yang dikenal sebagai Maharani Shima, yang menurunkan Sanjaya, pendiri kerajaan Mataram Kuno di Medang.[3] 

Untuk meneliti kondisi Jepara pada abad ke-18, di sinilah kami merujuk arsip-arsip VOC, di samping sumber-sumber yang tersedia secara umum dan beraneka macam serta lumayan berceceran secara terpencar. Sumber-sumber dari Tionghoa tidak akan kami lupakan, meskipun sering diberitakan banyak yang hilang sepanjang abad ke-20. Begitu pula inskripsi-inskripsi di beberapa batu nisan yang berasal dari beberapa kuburan tertua di Jepara seperti di Welahan. Fungsi sumber-sumber ini adalah acuan untuk memverifikasi melalui situs-situs agama dan mengkategorikan Jepara dalam dua periodesasi: paruh pertama dan peruh kedua, untuk mengetahui kondisi sosial dan ekonomi Jepara di saat itu. 

Kenapa harus membagi Jepara ke dalam dua periode? Hal itu karena sulitnya menemukan kondisi Jepara secara utuh dari sumber-sumber yang terlihat sangat beragam. Dengan membaginya, berarti usaha mengelompokkan bidang-bidang tertentu akan terjadi utuh dan lebih mudah. Kenapa harus menjadi kondisi sosial dan ekonomi? Karena dua kondisi tersebut adalah bidang paling padat memiliki bahan-bahan rujukan; orang Eropa tertarik dengan Jepara karena ia adalah tempat niaga paling penting sepanjang abad, dan hal ini berimplikasi logis terkait kondisi sosial yang direkam VOC yang waktu itu bermarkas besar di Semarang. Karena Jepara adalah tempat yang agamis, oleh karenanya untuk menggambarkan kondisi sosial-budaya akan kami laporkan dengan mengacu tempat-tempat ibadah dan perkumpulan-perkumpulan yang merupakan simbol penting kehidupan masyarakat Jepara pada waktu itu. 

Bupati Jepara Awal Abad ke-18 
Jepara, pada awal tahun 1700-an, adalah kerajaan kecil yang secara administratif di bawah kekuasaan Mataram yang bertahta di Kartasura[4]. Pada masa itu Kertasura sedang memanas. Sekitar tahun 1703 Kanjeng Sunan Amangkurat II[5], raja Mataram yang memindahkan keraton ke Kartasura, meninggal dunia. Tampuk kekuasaan Mataram diteruskan oleh anaknya, Amangkurat III, yang dikenal dengan Kanjeng Sunan Amangkurat Emas atau Sunan Kencet (Jawa: pincang), karena menderita cacat dan berjalan pincang. Sunan Amangkurat III bertikai dengan pamannya, Raden Mas Drajat (Panglima Perang Mataram), yang tidak lain adalah seorang pangeran, putra dari Raden Mas Sayidin atau Sunan Prabu Amangkurat Agung (Amangkurat I). 

Hingga sejarah mencatat Amangkurat III mengeluarkan perintah penangkapan Raden Mas Drajat, namun sang pangeran dapat melarikan diri sampai Semarang. Di Semarang, Raden Mas Drajat meneken perjanjian dengan VOC yang salah satu isinya adalah membantu usahanya merebut Kartasura dari tangan Sunan Amangkurat III. Raden Mas Drajat serta pengikutnya yang berjumlah 10.000 orang menyerbu Kartasura, dengan bantuan VOC kemudian ia berhasil menduduki Kartasura, dan memaksa Sunan Amangkurat III melarikan diri ke arah timur dan mencari perlindungan dari Untung Surapati[6] yang merupakan kawan ayahnya. Atas kemenangannya tersebut, pada tahun 1704 bertempat di Semarang, Raden Mas Drajat menobatkan diri sebagai raja dengan gelar Ingkang Sinuhun Pakubuwono I Senopati Ing Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panatagomo Khalifatullah Tanah Jawa, dan dikenal dengan nama Pangeran Puger. 

Setahun setelah menobatkan diri sebagai Raja Mataram, pada tahun 1705, Pakubuwono I mengangkat Citrasumo I untuk menjadi bupati di Jepara, dan pemerintahannya berkedudukan di Desa Bonjot.

______
[1] Konon berasal dari kata Ujung Para, kemudian menjadi Ujung Mara, Jumpara, dan jadilah Japara/Jepara, yang berarti tempat pemukiman para pedagang yang berniaga 

[2] Seorang penulis kelahiran Portugal pada tahun 1468 dan meninggal di Tiongkok pada tahun 1540. Ia termasuk penulis generasi paling awal di Eropa yang menerangkan Jepara telah dihuni sekitar 90-100 orang dan berada di bawah penguasaan Arya Timur (ayah Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor) dalam pengawasan Kesultanan Demak. Dalam catatannya, dijelaskan Jepara adalah pelabuhan niaga serta pelabuhan militer. 

[3] Sebenarnya sejak tahun 742 nama Mataram sudah dimiliki oleh sebuah kerajaan yang dipimpin Sanjaya. Karena para rajanya memeluk agama Hindu, oleh karenanya ia disebut Kerajaan Mataram Hindu. Kerajaan ini dipimpin oleh dua macam dinasti (wangsa): Sanjaya dan Syailendra. Hingga akhir tahun 925, ibu kota kerajaan ini berada di Medang Kamulan, sebuah tempat yang mewarisi kisah-kisah mitos seperti Loro Jonggrang. Penamaan (Toponim, berasal dari bahasa Yunani: topos yang berarti tempat dan nomos yang berarti nama) sebuah kawah vulkanik bernama Bledug Kuwu yang masih ada sampai sekarang di Desa Kuwu Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan adalah dari mitologi di Medang Kemulan. Hingga pada tahun 930, Raja Sindok memindahkan kerajaan ini ke lembah Kali Brantas di Jawa Timur, dan menamakannya Kerajaan Medang. 

[4] Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa Kesultanan Mataram pada Juni 1677 jatuh ke tangan Trunajaya, seorang bangsawan dari Madura, dan hal ini menandai berakhirnya Kesultanan Mataram. Lahir sebagai penerus Mataram adalah Kertasura yang didirikan Sunan Amangkurat II. 

[5] Sunan Amangkurat II bernama Raden Mas Rahmat, putra Amangkurat I, dikenal sebagai Sunan Admiral (orang Jawa menyebutnya Sunan Amral) karena ia adalah raja Jawa pertama yang konon mengenakan baju kebesaran bergaya Eropa. Ia dikenal pula sebagai raja tanpa Istana, karena Plered (ibu kota Kerajaan Mataram) telah diduduki adiknya, Raden Mas Drajat. Kemudian ia membangun keraton di hutan Wanakerja yang dinamainya Kartasura pada September 1680. 

[6] Untung Surapati adalah bekas budak Bali yang memberontak VOC di Batavia. Karena terjepit dan kalah kekuatan, ia sampai ia melarikan diri ke Kartasura untuk mendapatkan perlindungan dari Sunan Amangkurat II. Pada tanggal 4 Februari 1686 seorang perwira Belanda bernama Kapten Francois Tack menemui Sunan Amangkurat II dengan maksud menangkap Untung Surapati. Namun nahas, sesampainya di Kartasura duta Belanda ini dibunuh atas perintah Sunan Amangkurat II. Untung Surapati meninggal dalam pelariannya di Bangil pasca penyerbuan pasukan Raden Mas Drajat ke Kartasura yang bermaksud merebut kekuasan Sunan Amangkurat III.

pasang
Nama

advertorial artikel baca big rip blora bupati busana gaya grobogan hiburan hijab jepang jepara kardinah karimunjawa kartini kiamat kiat kudus mandalika moto motogp muria musik olahraga pantai bondo pati perempuan pilbup rambut ratu kalinyamat rembang ringan sehat sejarah seks sosroningrat sunan kudus tekno travel umkm
false
ltr
item
muria.co: TAPAK AWAL JAPARA ABAD KE-18
TAPAK AWAL JAPARA ABAD KE-18
https://lh6.ggpht.com/-C2dfKH15k0w/U1FZuqZe3NI/AAAAAAAAGAQ/hxadL8Z3oMo/Rumail%252520Abbas_thumb%25255B13%25255D.jpg?imgmax=800
https://lh6.ggpht.com/-C2dfKH15k0w/U1FZuqZe3NI/AAAAAAAAGAQ/hxadL8Z3oMo/s72-c/Rumail%252520Abbas_thumb%25255B13%25255D.jpg?imgmax=800
muria.co
https://muriaco.blogspot.com/2015/09/tapak-awal-japara-abad-ke-18.html
https://muriaco.blogspot.com/
http://muriaco.blogspot.com/
http://muriaco.blogspot.com/2015/09/tapak-awal-japara-abad-ke-18.html
true
6267862446980147053
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago