MURIA.CO - Kehadiran seorang legenda rockstar memberi kesegaran tersendiri bagi penikmat musik rock. Hal ini juga memberikan atmosf...
MURIA.CO - Kehadiran seorang legenda rockstar memberi kesegaran tersendiri bagi penikmat musik rock. Hal ini juga memberikan atmosfir segar, ketika Sriya Café and Homestay menyajikan choaching clinic yang kedua, dengan menghadirkan Heydi Ibrahim di Jepara.
Heydi, panggilan akrabnya, adalah vokalis band rock fenomenal tanah air yang populer pada awal era ‘90an, Power Slaves. Kehadiran Heydi malam tadi (3/6) memberikan materi diskusi tentang tehnik vokal kepada para pengunjung Sriya Café.
Sebelum menampilkan Heydi, ada dua band pembuka. Diantaranya; Nothing dari Jepara sebagai band pembuka awal dengan menyanyikan lima lagu, dan kehadiran Anto Band dari Sidoarjo sebagai fansband dari Slavers, sebutan penggemar Power Slaves. Anto Band menampilkan 3 lagu, dimana beberapa diantaranya merupakan lagu Power Slaves.
Heydi juga banyak bercerita dari awal bergabung dengan Power Slaves hingga mengenai industri musik tahun ‘90an. Heydi bercerita awal mula terbentuknya Power Slaves, yang bermuara dari sebuah festival band di Semarang, yang digawangi Anwar Fatahillah Dan Randy pada tahun 1990. Kemudian masuklah Widi sebagai drumer dan Heydi sebagai vokalis, yang saat itu baru pulang dari Belanda setelah mengikuti pertukaran pelajar.
Tahun 2003 lalu Heydi sempat keluar dari Power Slaves. Alasan Heydi keluar karena belum selesainya dia menjawab dua bakat yang dimilikinya dari Tuhan, yaitu seni rupa dan seni suara. Namun itu tidak berlangsung lama. Lima tahun berikutnya (2008), Heydi kembali bergabung bersama Power Slaves dengan formasi Anwar (bass), Acho (gitar), dan dua personel cabutan, Firdy (drumer) dan Robby (gitar).
Alasan lainnya Heydi bergabung kembali yakni setelah Power Slaves memiliki management sendiri yang di motori oleh fansnya, Slavers. Management ini diberi nama Kereta Rock n Roll, sesuai dengan nama album ketiga mereka. Management ini dibentuk Oktober 2010 lalu dan berhasil merangkul kembali fans mereka yang sempat tertidur selama lima tahun.
Dalam album keenamnya, Power Slaves hanya bersinergi dalam pembuatan dan penjualan CD album mereka. Sedangkan untuk konser, tetap diatur management. Hal inilah yang membuat Heydi nyaman dan ingin bermusik kembali.
Selain berbicara perjalanannya bersama Power Slaves, Heydi juga banyak berbicara mengenai industri musik era ‘90an yang sarat dengan kualitas dibanding kuantitas, dimana pada saat itu para musisi dituntut memiliki performa maksimal, tidak sekedar bisa bernyanyi maupun hanya dapat memainkan alat musik saja, namun juga harus memiliki karakter dan dapat mengoptimalkan kelebihan pada dirinya.
Pungkas acara, Heydi membawakan beberapa lagu Power Slaves, lagu dari Gun and Roses, Creed dan Foo Fighter. Sambil bernyanyi, Heydi juga memberikan materi teknik vokal. Kehadiran Heydi di Sriya Café and Homestay Jepara membuat antusias pengunjung dan fans Power Slaves.
“Setelah ini pada coaching clinic ketiga dan selanjutnya, kita akan menghadirkan sosok musisi lainnya yang memiliki track record panjang dan penggemar di Jepara. Mungkin saja kita mengundang personil KLa Project, personil Sheila On 7, personil Jikustik atau mungkin juga girlband JKT48. Yang pasti kita akan memenuhi hasrat pengunjung setia Sriya,” kata Sigit Nugroho, owner Sriya Café and Homestay. (PS)